Ketahui Rukun Wakaf Wasiat Polis Asuransi di Indonesia

Produk Asuransi Syariah kian beragam. Tak hanya Asuransi Kesehatan dan Asuransi Jiwa saja. Tetapi ada pula Wakaf, yang kehadirannya semakin dilirik masyarakat muslim di Indonesia.

Wakaf merupakan suatu kedermawanan dalam Islam yang menjanjikan kebaikan tak terputus bagi yang melakukannya. Kebaikan tersebut bermanfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Dalam dunia asuransi, Wakaf telah mendapatkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui 106/DSN-MUI/X/2016. Sehingga saat ini, tak sedikit perusahaan asuransi yang memiliki produk Wakaf.

Prudential Indonesia telah memiliki Program Wakaf dari PRUSyariah. Program Wakaf memberikan manfaat Asuransi Jiwa Syariah sekaligus manfaat investasi. Di sisi lain, perusahaan yang telah memiliki produk Asuransi Syariah selama 12 tahun ini membantu Nasabah, terutama Nasabah yang ingin beraksi sosial membantu sesama Muslim. Salah satu caranya melalui Wakaf Wasiat Polis Asuransi.

Wakaf Wasiat Polis Asuransi adalah wakaf berupa Polis Asuransi Syariah - yang di dalamnya memberikan manfaat asuransi dan investasi atau Santunan Asuransi - dilakukan oleh Nasabah dengan sepengetahuan ahli waris. Jika Nasabah meninggal dunia atau Polis jatuh tempo, Santunan Asuransi dapat diserahkan kepada lembaga sosial yang telah ditunjuk. Dengan catatan, semua ahli waris menyetujuinya.

Merujuk hal di atas, Wakaf Wasiat Polis Asuransi tidak boleh dilakukan asal-asalan. Proses Wakaf harus melalui Syariat Islam, di mana berlaku Rukun Wakaf yang menentukan sempurna atau tidaknya berwakaf.

Adapun Rukun Wakaf adalah:

  • Ada orang yang berwakaf

Wakif atau orang yang berwakaf adalah faktor penting dalam hal ini. Wakif haruslah orang yang mampu, dewasa, berakal sehat, serta tidak lalai dan tidak terpaksa melakukannya.

  • Ada harta yang diwakafkan

Seorang Wakif yang ingin berwakaf harus memiliki harta atau barang yang diwakafkan. Harta Wakaf dapat berupa benda tetap (rumah, tanah), modal, saham, maupun Polis Asuransi. Meski demikian Wakif harus memperhatikan status harta agar memenuhi syarat Wakaf di mata agama.

Syarat harta Wakaf harus memiliki nilai guna, harta berasal dari Wakif dan dilindungi secara hukum (sertifikat, Polis Asuransi, dan dokumen lain), serta tahan lama jika dimanfaatkan oleh penerima. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah harta Wakaf tidak dapat diubah, dijual, atau dialihkan.

  • Penerima Wakaf

Ada orang yang berwakaf, harus ada orang yang menerima Wakaf atau Maufuq’Alaih. Penerima Wakaf tak serta merta menerima begitu saja. Maufuq’Alaih harus orang atau kelompok saleh dan mereka wajib melakukan kebajikan di jalan Allah SWT. penerima bisa perorangan atau lembaga Wakaf (Nazhir).

  • Penyerahan Wakaf

Selain itu, rukun mencantumkan mengenai penyerahan Wakaf atau Shighah. Shighah dapat dilakukan secara tertulis, lisan, atau isyarat dipahami pihak terkait.

Program Wakaf memberikan cara alternatif kepada Nasabah dalam memberikan manfaat ganda sejalan dengan Syariat Islam. Manfaat proteksi, investasi, dan kemaslahatan umat.

Back to Top