Pahami Hukum Asuransi dalam Islam Berikut Ini | Prudential Indonesia

Pahami Hukum Asuransi dalam Islam Berikut Ini

Hukum Asuransi dalam Islam sering menjadi perbincangan, dan tentunya hal ini sangatlah wajar. Sebelum melakukan sebuah perjanjian, terutama yang melibatkan keuangan, setiap pihak berhak mengetahui apakah segala sesuatu berjalan secara benar dan terbebas dari segala yang haram atau tidak.

Apabila Anda merupakan salah satu calon Nasabah yang ingin tahu seputar hukum asuransi dalam Islam, Anda tidak perlu khawatir lagi. Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Memperoleh Perlindungan dengan Asuransi Syariah

Ternyata, mendapatkan perlindungan Asuransi Kesehatan dan Asuransi Jiwa bisa dilakukan secara halal melalui Asuransi Syariah. Hal ini telah diatur secara rinci oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Fatwa Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 dengan menimbang kebutuhan para masyarakat akan sejumlah dana sejak dini demi menyongsong masa depan dan mengantisipasi kemungkinan terjadi risiko.

Baca Juga: 5 Keuntungan Memiliki Asuransi Syariah yang Sebaiknya Diketahui

Akad yang Sesuai dengan Syariah

Pada Fatwa yang dikeluarkan tersebut, MUI menjelaskan bahwa Asuransi Syariah dapat dilakukan melalui Akad (perikatan atau perjanjian) yang sesuai dengan perintah agama Islam. Adapun Akad yang sesuai dengan hukum asuransi dalam Islam menurut MUI yaitu yang tidak mengandung Gharar (penipuan), Maysir (perjudian), Riba, serta hal lainnya yang bersifat haram dan maksiat.

Jenis Akad pada Asuransi Syariah

Secara garis besar, terdapat dua jenis Akad dalam Asuransi Syariah, yaitu Akad Tijarah dan Akad Tabarru’. Akad Tijarah merupakan kegiatan di mana dana yang Anda berikan akan dikelola pada instrumen investasi yang halal. Pada akhir periode Akad, Anda nantinya akan menerima keuntungan sesuai yang telah disepakati di awal.

Berbeda lagi dengan Akad Tabarru’. Akad ini merupakan kegiatan di mana dana Anda akan dihibahkan guna melindungi peserta lain yang terkena musibah. Apabila Anda yang terkena musibah, dana Tabarru’ yang dihibahkan oleh para peserta lainnya akan disalurkan kepada Anda. Sistem ini juga sering dikenal sebagai risk-sharing.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa Akad Tijarah dan Tabarru’ tidak boleh bersumber dari dana yang sama. Oleh karenanya, para Perusahaan Asuransi akan memisahkan Premi yang Anda berikan menjadi dua dana, yaitu dana Tijarah dan juga dana Tabarru’.

Nah, itulah beberapa informasi yang perlu Anda ketahui seputar hukum asuransi dalam Islam. Pada dasarnya, asuransi yang diperbolehkan dalam Islam ialah Asuransi Syariah yang dikelola secara amanah dan terbebas dari Riba, Maysir, Gharar atau unsur lainnya yang haram.

Salah satu yang bisa Anda peroleh adalah rangkaian produk Asuransi Kesehatan dan Asuransi Jiwa PRUSyariah dari Prudential Indonesia. Segala kegiatan Tabarru’ dan Tijarah dilakukan secara halal demi menunjang kebutuhan para Nasabah dalam menunaikan kehidupan yang sesuai syariat agama.

Baca Juga: Cara Memilih Asuransi Syariah agar Tidak Salah Pilih

Back to Top