Pengertian Premi Asuransi Syariah yang Wajib Diketahui

Asuransi Syariah memiliki sistem kerja berbeda dari Asuransi Konvensional. Salah satu perbedaan yang wajib diketahui Nasabah adalah bentuk Premi Asuransi Syariah.

Apakah Asuransi Syariah tidak memiliki Premi? Jika tidak, bagaimana mekanisme Asuransi Syariah? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita simak penjelasannya.

Premi Asuransi Syariah

Premi merupakan jumlah dana yang harus dibayarkan pada waktu tertentu kepada Perusahaan Asuransi. Sedangkan pengertian Premi Asuransi Syariah adalah dana kontribusi yang diberikan kepada Perusahaan Asuransi untuk dikelola secara Syariah.

Asuransi Syariah memberlakukan Dana Tabarru’ sebagai “pengganti” Premi. Ketika Anda membeli salah satu produk Asuransi Syariah, Perusahaan Asuransi akan menjelaskan bahwa Nasabah harus berkontribusi dana Dana Tabarru’.

Mekanisme Dana Tabarru’

Dana Tabarru’ adalah kumpulan kontribusi dari para Nasabah untuk keperluan tolong menolong atau subsidi silang jika salah satu Nasabah mengalami kejadian buruk. Misalnya, Nasabah A sakit dan dirawat di rumah sakit. Dana Tabarru’ akan dikeluarkan untuk membiayai Nasabah A. Dengan kata lain, Dana Tabarru’ berfungsi untuk membayar klaim manfaat Asuransi Syariah.

Pemberlakuan Premi Asuransi Syariah juga telah dilakukan oleh Prudential Indonesia. Dalam Dana Tabarru’, Perusahaan Asuransi menerapkan konsep risk sharing atau berbagi risiko antar Nasabah. Bila terjadi risiko terhadap Nasabah, Perusahaan Asuransi akan memberikan sejumlah Santunan Asuransi. Asuransi Syariah mengadaptasi produk Asuransi Konvensional. Jadi Anda yang ingin asuransi berprinsip Syariah bisa mendapatkan Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, Unit Link, dan lainnya.

Di sisi lain, dana tersebut dikelola Perusahaan Asuransi dengan sistem sesuai Syariat Islam. Sehingga dana terhindar Riba atau bunga yang bersifat haram. Dalam pengelolaannya, Perusahaan Asuransi dapat membantu Nasabah yang menginginkan Asuransi Syariah dengan manfaat proteksi dan investasi.

Perusahaan Asuransi akan menggunakan dana untuk berinvestasi dalam instrumen syariah dan tidak akan menanamkan modal ke instrumen investasi yang berunsur Riba, judi, dan memproduksi barang atau jasa haram bukan pada zatnya.

Istilah Asuransi Syariah

Tak hanya istilah dan cara kerja Premi yang berbeda. Ada beberapa istilah Asuransi Syariah yang berbeda dari Asuransi Konvensional. Istilah berikut ini dapat membantu Anda dalam memahami Asuransi Syariah:

  • Akad: pertalian serah terima (ijab qabul) menurut syariat yang berpengaruh terhadap obyek kontrak.
  • Gharar: ketidakjelasan.
  • Hibah: pemberian sukarela.
  • Ijma: konsensus hukum disepakati oleh para ulama.
  • Maslahat: kebaikan, manfaat.
  • Maysir: judi, kerugian satu pihak menjadi keuntungan pihak lain.
  • Mudarat: bahaya, kerugian.
  • Qiyas: menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya, namun memiliki kesamaan sebab, manfaat, bahaya, dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu.
  • Riba: tambahan, bunga.
  • Tabbaru’:
  • Takaful: saling menanggung.
  • Ta’min: asuransi, memberikan ketenangan, rasa aman, bebas dari rasa takut.
  • Wakalah Bil Ujrah: kontrak perwakilan dengan biaya (peserta asuransi syariah mewakilkan pengelolaan asuransi dan investasinya kepada Perusahaan Asuransi syariah. Perusahaan Asuransi syariah berhak mendapat biaya untuk pengelolaan tersebut).

Kegiatan Asuransi Syariah telah dinyatakan halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa Nomor 21/DSN-MUI/X/2001. Dalam kinerja pun, asuransi juga diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan MUI, serta Perusahaan Asuransi yang baik harus terdaftar dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Percayakan pengelolaan Dana Tabarru’ kepada Perusahaan Asuransi. Jika cara kerja perusahaan menyimpang, DPS dkk. akan bertindak tegas. Asuransi Syariah, memberikan berkah perlindungan untuk Anda dan keluarga di jalan Allah SWT.

Back to Top