Prudential Indonesia Perkuat Komitmen untuk Memperluas Program Literasi Keuangan Dasar Pada Anak

Prudential Indonesia Perkuat Komitmen untuk Memperluas Program Literasi Keuangan Dasar Pada Anak Jakarta, 30 Juni 2018 – PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) memperkenalkan kurikulum “Cha-Ching” pada komunitas edukasi di Jabodetabek, untuk membantu menanamkan keterampilan pengelolaan uang dasar, khususnya pada anak-anak berusia antara 7 hingga 12 tahun.

Kegiatan ini berlangsung sebagai salah satu bentuk dukungan Prudential Indonesia terhadap upaya peningkatan literasi keuangan sejak dini, sejalan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.76/POJK.05/2016, melalui edukasi keuangan pada masyarakat Indonesia. Kegiatan yang dikemas dalam acara bertajuk “Workshop Kurikulum Cha-Ching Bersama Sahabat Cha-Ching” dan digelar di Taman Literasi Keuangan Prudential (Taman Mataram, Jakarta) ini merupakan kelanjutan dari upaya Prudential Indonesia untuk memperkenalkan program edukasi keuangan untuk anak. Sebelumnya, Prudential Indonesia telah memperkenalkan Cha-Ching di tahun 2012 dan kemudian memasukkan nilai-nilai pengelolaan uang dasar dari “Cha-Ching” ke dalam kurikulum Sekolah Dasar di Sidoarjo, Jawa Timur, di tahun 2017. Kurikulum Cha-Ching telah diimplementasikan di 602 sekolah di Sidoarjo dan menjangkau lebih dari 29.000 siswa Sekolah Dasar dan sekitar 1.000 guru.

President Director Prudential Indonesia, Jens Reisch yang ditemui dalam kegiatan workshop tersebut mengatakan, “Prudential percaya bahwa sebuah bisnis yang bertanggung jawab adalah binis yang berkomitmen untuk memberi kembali dan mengembangkan orang-orang serta lingkungan sekitarnya. Prudential Indonesia berkomitmen untuk mendukung usaha pemerintah dalam meningkatkan literasi serta inklusi keuangan dan mengurangi kesenjangan proteksi.”

Dasar pengajaran dari kurikulum Cha-Ching adalah untuk menanamkan empat konsep utama dalam pengelolaan uang, yaitu Memperoleh (Earn), Menyimpan (Save), Membelanjakan (Spend), dan Menyumbangkan (Donate) dalam kehidupan sehari-hari siswa. Kurikulum Cha-Ching ini sejalan dengan sebuah studi dari University of Cambridge yang mengungkapkan bahwa anak-anak mulai membentuk kebiasaan finansial mulai usia 7 tahun. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan pemahaman dasar mengenai keuangan sejak usia tersebut. Tujuan dari memberikan pendidikan keuangan sejak dini adalah untuk memberikan pemahaman dasar mengenai pentingnya nilai uang sehingga diharapkan anak-anak dapat membuat keputusan finansial yang lebih baik saat dewasa.

Corporate Communications and Sharia Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo menjelaskan, “Inisiatif yang dijalankan oleh Prudential Indonesia untuk memberikan literasi keuangan pada anak membutuhkan sinergi dan dukungan dari berbagai pihak terkait untuk memperluas manfaatnya. Oleh karena itulah, melalui kegiatan ‘Workshop Kurikulum Cha-Ching Bersama Sahabat Cha-Ching’, Prudential Indonesia ingin merangkul perwakilan komunitas edukasi di Jakarta dan sekitarnya, untuk terus bekerja sama meningkatkan awareness dari masyarakat Indonesia.”

Cha-Ching adalah platform pendidikan keuangan global dari Prudential yang di kembangkan di Asia, yang hingga tahun 2017 telah sukses menjangkau lebih dari satu juta orang di Indonesia melalui media online serta kegiatan off air. Cha-Ching menggunakan berbagai saluran untuk menjangkau masyarakat Indonesia yaitu melalui media sosial (Instagram, Facebook, Twitter, dan YouTube), Website, dan segmen yang ditayangkan di saluran TV Cartoon Network.

Tak hanya itu, sejak tahun 2015 lalu, Cha-Ching juga bekerja sama dengan lebih dari 20 Sekolah Dasar sekitar Jabodetabek melalui program ‘Cha-Ching Goes to School’.

“Harapan kami, komunitas edukasi yang hadir pada hari ini yaitu Komunitas Belajar Sejahterakan Indonesia, Komunitas Jendela, BEBEK Berkarya, Komunitas Kampung Vietnam dan Mari Mengajar dapat menguatkan komitmen yang sama dengan Prudential Indonesia untuk memberikan pendidikan keuangan kepada anak dengan cara yang menyenangkan, dan ke depannya Cha-Ching dapat menjadi sebuah bagian penting dalam kurikulum pendidikan formal serta non-formal bagi anak-anak,” tutup Jens.

#####

 

 

Back to Top