Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional yang Harus Anda Ketahui

Beberapa tahun ini, produk Syariah sangat diminati masyarakat. Pasalnya, produk tersebut sudah mendapatkan sertifikat halal dan sesuai syariat Islam. Seperti yang terjadi pada sektor keuangan dengan Asuransi Syariah.

Asuransi Syariah merupakan asuransi yang memiliki prinsip sesuai syariat Islam, yaitu tolong menolong antar peserta. Prinsip tersebut meminta seluruh peserta asuransi untuk berkontribusi ke Dana Tabarru. Jika risiko terjadi kepada salah satu nasabah, maka Dana Tabarru yang berfungsi sebagai dana perlindungan akan turun tangan. Konsep ini disebut dengan risk sharing.

Tak hanya prinsip, ada beberapa sistem yang membedakan antara Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional. Hal ini berkaitan dengan sistem yang digunakan. Namun yang pasti, kehadiran Asuransi Syariah melengkapi kebutuhan masyarakat tentang produk halal. Terlebih kinerja Asuransi Syariah diawasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Jika Anda tertarik dengan AsuransiSyariah, tak ada salahnya menyimak perbedaan keduanya. Sehingga Anda yakin bahwa produk tersebut benar-benar halal. Berikut ini perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional:

  • Kontrak atau perjanjian Asuransi Syariah menggunakan Akad Hibah (tabarru’) yang dilakukan sesuai syariat Islam dan halal. Sedangkan kontrak Asuransi Konvensional dilakukan seperti transaksi pada umumnya. Nasabah menyepakati kontrak (premi, rentang waktu, dan lainnya) yang diajukan oleh perusahaan asuransi.
  • Kepemilikan dana. Kepemilikan dana Asuransi Syariah adalah dana bersama milik semua Peserta asuransi. Jika ada Peserta membutuhkan bantuan, Peserta lain termasuk Anda akan membantu melalui dana kontribusi. Hal ini disebut dengan prinsip sharing of risk. Sedangkan Asuransi Konvensional akan mengelola dan menentukan dana perlindungan Nasabah, yang berasal dari pembayaran premi per bulan.
  • Investasi berbentuk Tabarru’ dilakukan sesuai syariat Islam, sehingga investasi akan mengambil instrumen yang halal. Sebaliknya, Asuransi Konvensional bebas memilih instrumen investasi, tanpa melihat halal atau non-halal.
  • Surplus underwriting. Ini adalah dana yang akan diberikan kepada peserta bila terdapat kelebihan dari rekening Tabarru’ termasuk jila ada pendapatan lain setelah dikurangi pembayaran santunan/klaim dan hutang kepada perusahaan (jika ada). Hal ini tidak berlaku pada Asuransi Konvensional, karena semua keuntungan dimiliki oleh pihak perusahaan asuransi.
  • Proses klaim. Asuransi Syariah memungkinkan seluruh keluarga inti menggunakan satu polis. Di samping itu, kontribusi tabarru lebih ringan dibanding pembayaran premi, seluruh keluarga akan mendapatkan perlindungan rawat inap di rumah sakit. Asuransi Konvensional hanya memperbolehkan satu orang memegang satu Polis.
  • Zakat adalah salah satu Rukun Islam yang wajib dilakukan oleh umat Islam. Sehingga Asuransi Syariah mewajibkan peserta membayar zakat. Jumlahnya ditentukan berdasarkan keuntungan perusahaan. Hal ini tidak berlaku pada Asuransi Konvensional.

Meski ada perbedaan antara Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional, peran asuransi masih sama, yaitu memberikan perlindungan bagi peserta. Namun ada manfaat produk Asuransi Syariah yang tidak ada di Asuransi Konvensional, yaitu Wakaf.

Wakaf merupakan penyerahan hak milik atau harta benda yang tahan lama kepada penerima Wakaf atau Nazhir, yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Seperti yang terdapat pada Program Wakaf yang dimiliki oleh PRUSyariah dari Prudential Indonesia.

Program Wakaf tersebut memungkinkan Nasabah mewujudkan kebajikan. Karena Wakaf memiliki manfaat perlindungan, sehingga Nasabah dapat mewakafkan manfaat asuransi berupa Santunan Asuransi meninggal dunia dan nilai tunai polis.

Dengan Program Wakaf, Nasabah akan mendapatkan pahala, proteksi, sekaligus bermanfaat buat orang lain. 

Back to Top