Pengertian Asuransi Syariah Menurut Ajaran Islam

Industri keuangan dengan sistem Syariah tengah menjadi sorotan. Pasalnya, produk atau jasa Syariah menawarkan kemudahan berdasarkan Syariat Islam. Salah satunya, Asuransi Syariah.

Sebagai manusia beriman, ada keinginan untuk melakukan semua hal sesuai yariat Islam. Bertindak sesuai syariat dan menggunakan produk halal. Tak terkecuali, memberikan perlindungan kepada keluarga. Sejalan dengan prinsip tersebut, perusahaan asuransi muncul dengan produk Asuransi Syariah.

Perusahaan asuransi tak sekadar mencomot nama ‘Syariah’. Namun perusahaan benar-benar menjalankan sistem asuransi sesuai syariat Agama Islam dalam memenuhi keinginan Nasabah. Bahkan kinerjanya diawasi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) bentukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS). DSN akan mengawasi semua operasional asuransi. Salah satu tugasnya adalah mengawasi harta kepemilikan Nasabah harus halal. DPS akan memastikan perusahaan asuransi telah bekerja berdasarkan prinsip syariat Islam.

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi Syariah merupakan asuransi berdasarkan prinsip tolong menolong dan saling melindungi antar peserta. Pengertian tersebut sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001, yaitu Asuransi Syariah (Ta’min, Takaful, atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau Tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariat Islam.

Meski investasi, Anda sebagai calon Nasabah jangan khawatir. Pasalnya, perusahaan asuransi memastikan bahwa instrumen untuk menanamkan modal halal dan bebas dari hal-hal haram. Mengingat ini adalah Asuransi Syariah, terdapat istilah Syariah yang berbeda dari Asuransi Konvensional. Dari istilah di bawah, Anda bisa mempelajari sedikit perbedaan antara Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional.

Di Indonesia tak sedikit perusahaan asuransi yang memiliki produk Syariah. Salah satunya Prudential Indonesia. Asuransi yang berdiri sejak 1995 ini setidaknya memiliki 16 produk dan program PRUSyariah. Program Wakaf, misalnya.

Wakaf Melalui Asuransi

Wakaf adalah menyerahkan hak milik atau harta benda yang tahan lama kepada penerima wakaf atau Nazhir. Nazhir bisa dari pihak perorangan maupun lembaga. Hak milik yang diwakafkan harus bersifat sukarela, tahan lama, dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Program Wakaf dari Prudential Indonesia memberikan manfaat lebih. Karena program ini dapat berdampingan dengan asuransi dan investasi. Bahkan Anda sebagai Pemegang Polis Asuransi Syariah pun dapat mewakafkan manfaat asuransi. Dan kegiatan tersebut telah mendapat persetujuan dari MUI. Adapun syaratnya:

  • Ahli Waris atau Penerima Manfaat asuransi menyetujui untuk mewakafkan manfaat asuransi
  • Calon Penerima Manfaat asuransi telah menyatakan kesepakatan
  • Jumlah yang diwakafkan tidak lebih dari 45% dari total manfaat asuransi
  • Ikrar wakaf dilakukan setelah manfaat asuransi sudah menjadi hak Ahli Waris atau Penerima Manfaat asuransi

Bagi Pemegang Polis Unit Link yang bersifat investasi tetap bisa mewakafkan manfaat investasi. Namun jumlahnya paling banyak sepertiga dari total harian warisan, kecuali terdapat kesepakatan lain dari semua ahli waris. Meski demikian harta benda untuk wakaf tak hanya bangunan atau tanah.

Uang, logam mulia, bahkan surat berharga pun dapat diwakafkan. Karena pada dasarnya, harta benda wakaf dapat bermanfaat bagi orang yang mewakafkan ketika meninggal dunia dan bermanfaat jangka panjang. Dengan kata lain, Program Wakaf memberikan banyak manfaat. Baik manfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat.

Asuransi tersebut inovasi dari Asuransi Jiwa dengan prinsip Syariah terkait Unit Link. Sehingga asuransi memberikan perlindungan jiwa sekaligus alokasi investasi positif sejak Nasabah pertama kali membayar kontribusi.

Back to Top