wanita sedang melihat informasi

Menyusun Rencana Keuangan bagi First Jobber, Mulai dari Mana?

Saat memasuki dunia kerja, first jobber kerap dibuat bingung soal keuangan. Bagaimana tidak, mereka seolah terjebak di antara dua pilihan: hidup hanya sekali atau mempersiapkan masa depan.

Belum lagi kondisi nyaman hidup dari gaji ke gaji. Saat awal bulan merasa banyak uang, tapi penghasilan bulanan kerap habis di tengah jalan.

Pemikiran soal proteksi dan investasi pun belum tentu terbesit. Ingin menabung, namun banyak kebutuhan yang harus dibeli. Padahal, menyiapkan proteksi keuangan dari sekarang dapat mewujudkan hari tua yang tenang.

Fenomena ini sebenarnya tidak terlepas dari literasi keuangan masyarakat Indonesia yang tergolong rendah. Berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  pada 2019, tingkat literasi finansial masyarakat masih berada di angka 38 persen. Itu artinya, pengetahuan masyarakat terhadap sektor keuangan masih terbilang rendah 

Tak hanya itu, penetrasi asuransi di Indonesia pun tergolong sama kecilnya. Berdasarkan data OJK pada 2021, hanya 3,18 persen  saja masyarakat yang mempunyai asuransi. Anggapan bahwa asuransi tidak lebih penting dari kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu penyebabnya.

Pentingnya Menyusun Rencana Keuangan bagi First Jobber

Bukan tidak mungkin jika rendahnya literasi keuangan membuat masa depan berantakan. Bila terjadi situasi yang tidak diinginkan, kita baru kalang-kabut mencari proteksi.

Contoh nyatanya adalah situasi pandemi. Secara mendadak, banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Keadaan ekonomi keluarga tiba-tiba merosot karena lupa mempersiapkan dana cadangan untuk memenuhi kebutuhan selama pandemi.

Sejatinya, perencanaan keuangan yang matang bisa membentuk kebiasaan pengelolaan keuangan yang baik. Apabila kebiasaan tersebut sudah terbentuk sejak pertama kamu memperoleh penghasilan, berbagai tujuan keuangan lebih berpotensi untuk terwujud.

 

Tips Menyusun Rencana Keuangan bagi First Jobber

Sebelum menyusunnya, lakukan evaluasi keuangan terlebih dahulu. Catat pengeluaran rutin, pisahkan gaji bulanan berdasarkan kebutuhan. Kemudian beri porsi lebih tinggi untuk kelompok kebutuhan yang mendesak, misal bayar cicilan dan belanja bulanan.

Jangan lupa sisihkan gaji untuk dana darurat. Pos keuangan ini dapat menjadi 'penolong' agar cash flow bulananmu tidak berantakan saat menghadapi situasi tak terduga.

Idealnya, jumlah dana darurat adalah 6 kali pengeluaran bulanan jika kamu masih lajang. Jika sudah berkeluarga, jangan ragu untuk mengumpulkan dana darurat hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

Tidak perlu terburu-buru mengumpulkannya. Kamu bisa menyisihkan minimal 5-10 persen setiap bulan khusus untuk dana darurat. Simpan di instrumen yang mudah dicairkan, seperti rekening bank. 

Untuk melindungi diri dari risiko keuangan yang lebih besar dan sulit ditangani hanya dengan dana darurat, miliki polis asuransi. Dalam sebuah virtual talk  yang digelar kumparan, Certified Financial Planner, Annisa Steviani, mengatakan masyarakat kerap salah kaprah saat melakukan perencanaan keuangan. Alih-alih menyisihkan uang untuk investasi, membeli polis asuransi sebaiknya dilakukan terlebih dahulu.

"Jadi jangan dibolak-balik. Hitung dulu pengeluaran kamu per bulan itu berapa, cukup atau enggak untuk mengumpulkan dana darurat. Setelah itu, pelan-pelan kumpulin dana daruratnya. Jika (dana darurat) sudah terkumpul, mulai memproteksi diri dan keluarga dengan asuransi. Jangan langsung loncat ke investasi, nanti malah tidak punya rencana proteksi," jelasnya.

Lebih lanjut Annisa menjelaskan, urgensi memiliki asuransi tidak bergantung pada situasi pandemi saja. Bagaimanapun, kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Sebelum mengalami risiko yang tidak diinginkan, mengikutsertakan diri dalam asuransi menjadi langkah preventif untuk menjaga stabilitas keuangan.

Setelah memiliki asuransi, selanjutnya kamu dapat memilih instrumen investasi. Ingat, jangan mengikuti orang lain sebab setiap orang mempunyai profil risiko yang berbeda-beda. Semakin besar return yang didapat, semakin tinggi pula risiko yang harus diambil. 

Pemerintah juga tengah giat menumbuhkan kesadaran investasi di kalangan masyarakat. Berdasarkan data OJK , jumlah investor pasar modal mencapai 8,88 juta investor hingga 3 Juni 2022. Selama periode pandemi 2019-2021, angka ini meningkat lebih dari 300 persen.

Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal I OJK, Djustini Septiana mengatakan, peningkatan jumlah investor tersebut didominasi oleh generasi milenial, jumlahnya mencapai 80 persen.

 

Asuransi Unit Link  sebagai Solusi Perlindungan Jiwa dan Investasi

Jika kamu merasa berat untuk memenuhi pos asuransi dan investasi dalam waktu berdekatan, tak perlu khawatir. Kamu bisa memilih produk asuransi unit link yang memberikan manfaat perlindungan sekaligus investasi. Jenis asuransi ini berbeda dengan asuransi tradisional yang hanya memberikan manfaat tunggal saja kepada nasabah.

Premi pada unit link akan dialokasikan untuk membayarkan biaya asuransi, administrasi, biaya akuisisi, hingga dana investasi. Sehingga, perlindungan dan pengumpulan dana untuk investasi bisa berjalan beriringan.

Satu hal yang perlu diingat, sebagaimana investasi pada umumnya, komponen terkait investasi pada unit link juga memiliki risiko tergantung dengan tujuan investasi dan profil risiko nasabah serta

Potensi hasil investasi pun dapat dimanfaatkan untuk memastikan perlindungan tetap berjalan dan polis tetap aktif sepanjang nasabah menyetujui pemanfaatan tersebut. Jika nasabah berhalangan membayar premi, nilai tunai dari hasil investasi (jika ada) dapat dialokasikan untuk memastikan agar polis tetap aktif . Asalkan, nasabah perlu memenuhi beberapa syarat. Mulai dari mengajukan cuti premi terlebih dahulu, memastikan polis sudah berjalan sekian tahun sesuai yang dipersyaratkan, jumlah nilai tunai cukup untuk membayarkan biaya asuransi dan administrasi, serta menyanggupi syarat lainnya sesuai ketentuan polis.

Namun, perlu dipahami bahwa langkah ini akan memotong nilai tunai investasi dalam polis yang dimiliki dan nilai tunai bergerak fluktuatif mengikuti situasi pasar dan performa dana investasi yang dipilih oleh nasabah. Oleh karenanya, kamu perlu mengetahui tujuan keuangan serta profil risiko sebelum menentukan jenis dana untuk alokasi investasi pada unit link.

Kamu dapat memilih Prudential Indonesia sebagai mitra asuransi unit link. Selama lebih dari 26 tahun hadir di Indonesia, Prudential Indonesia telah mewujudkan perlindungan bagi 2,5 juta tertanggung. Jadi, kamu enggak perlu khawatir soal rekam jejak dan kekuatan finansial perusahaan.

Tak hanya itu, sepanjang tahun 2021, Prudential telah membuktikan komitmen perlindungan kepada nasabah melalui klaim dan manfaat sebesar Rp 16,6 triliun. Berdasarkan Laporan Keuangan Prudential Indonesia yang teraudit pada 2021,  Jumlah ini sudah melebihi ketentuan minimal target internal yang ditetapkan oleh regulator.

Seluruh proses bisnis dijalankan Prudential Indonesia dengan penuh integritas, sesuai dengan tata kelola perusahaan, praktik investasi yang bertanggung jawab, dan patuh terhadap peraturan yang berlaku.

Untuk informasi lengkap mengenai Prudential Indonesia, kamu bisa klik di sini ya!