Post holiday blues merupakan reaksi yang wajar ketika tubuh dan pikiran kembali beradaptasi dari suasana liburan ke rutinitas kerja yang lebih terstruktur.
Efek positif liburan tidak selalu bertahan lama, sehingga penurunan mood atau energi di awal masuk kerja sering terjadi dan bukan tanda kurangnya motivasi.
Liburan singkat kerap belum cukup untuk memulihkan energi sepenuhnya, terutama saat harus langsung menghadapi jadwal padat dan pekerjaan yang menumpuk.
Langkah sederhana dan bertahap membantu proses adaptasi, seperti mengatur ritme kerja, memperbaiki pola tidur, dan tetap menyisakan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan.
Menurunkan ekspektasi di hari-hari awal kerja penting untuk kesehatan mental, agar masa transisi setelah liburan dapat dilalui dengan lebih tenang dan berkelanjutan.
Liburan sering memberi ruang untuk beristirahat dan mengisi ulang energi. Namun saat rutinitas kerja kembali dimulai, sebagian orang justru merasa kurang bersemangat, sulit fokus, atau kehilangan ritme di hari-hari awal masuk kerja.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa efek positif liburan terhadap suasana hati bersifat sementara. Journal of Happiness Studies mencatat peningkatan well-being selama liburan umumnya kembali ke level awal dalam waktu sekitar satu minggu setelah kembali bekerja [1].
Kondisi ini berkaitan dengan proses penyesuaian tubuh dan pikiran terhadap perubahan ritme yang cukup drastis. Dari suasana liburan yang lebih fleksibel, seseorang kembali dihadapkan pada jadwal dan tanggung jawab kerja yang lebih terstruktur.
Post holiday blues adalah kondisi saat seseorang merasa suasana hati menurun, energi berkurang, atau kurang termotivasi setelah kembali bekerja usai liburan. Dalam psikologi kerja, kondisi ini dipandang sebagai respons alami tubuh dan pikiran dalam menyesuaikan diri kembali ke rutinitas, bukan sebagai gangguan mental atau tanda kurangnya motivasi pribadi.
Dalam keseharian, peralihan dari jadwal liburan yang lebih fleksibel menuju rutinitas kerja yang terstruktur sering kali memerlukan penyesuaian mental dan emosional. Kembalinya tanggung jawab, dikejar deadline, serta tuntutan fokus dapat membuat fase awal bekerja terasa lebih berat meski liburan berjalan menyenangkan.
Para psikolog juga menyebut bahwa rasa lesu atau tidak bersemangat di awal masuk kerja merupakan hal yang cukup umum. Psychology Today menjelaskan bahwa perubahan dari kondisi santai saat liburan ke lingkungan kerja dengan tuntutan fokus dan tanggung jawab yang tinggi dapat menimbulkan tekanan mental secara bertahap, sehingga membuat proses adaptasi terasa lebih berat di hari-hari awal [2].
Sekilas, liburan singkat seharusnya cukup untuk menyegarkan pikiran. Tapi kenyataannya, banyak orang justru merasa lebih cepat lelah atau kurang bersemangat begitu kembali bekerja. Ada beberapa hal sederhana yang sering luput disadari dan membuat fase awal masuk kerja terasa lebih berat dari yang dibayangkan.
Liburan singkat memang memberi rasa senang, tapi sering kali belum cukup untuk benar‑benar memulihkan energi. Penelitian menunjukkan bahwa proses pemulihan mental membutuhkan waktu lebih panjang dibanding durasi libur yang singkat, sehingga rasa lelah atau kurang berenergi bisa muncul kembali begitu rutinitas dimulai lagi.
Saat liburan, ritme hidup cenderung lebih fleksibel, tanpa alarm pagi, tuntutan deadline, atau rapat yang tak kunjung selesai. Ketika harus langsung kembali ke jadwal kerja yang padat, hal ini terasa kontras dan membuat hari-hari awal kerja terasa lebih berat secara mental.
Liburan singkat sering diikuti dengan tumpukan email, tugas tertunda, atau target yang menunggu. Riset psikologi kerja menunjukkan bahwa di fase ini kebutuhan pemulihan masih tinggi, sementara tuntutan kerja sudah kembali penuh, sehingga semangat dan fokus bisa menurun sementara waktu [3].
Post holiday blues tidak selalu perlu disikapi dengan perubahan besar atau tekanan untuk langsung kembali produktif. Justru, langkah-langkah kecil dan realistis dapat membantu tubuh serta pikiran beradaptasi kembali secara bertahap. Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu melewati fase ini dengan lebih ringan.
Di hari-hari awal masuk kerja, hindari langsung menumpuk agenda atau pekerjaan berat. Mulai dari tugas yang lebih ringan membantu tubuh dan pikiran menyesuaikan ritme tanpa merasa kewalahan, sehingga rasa lelah dan stres bisa ditekan.
Liburan sering mengubah jam tidur menjadi lebih fleksibel, yang bisa berdampak pada energi saat kembali bekerja. Menyesuaikan kembali waktu tidur dan bangun secara bertahap membantu meningkatkan fokus dan suasana hati.
Meski liburan sudah usai, bukan berarti semua kesenangan harus berhenti. Menyisihkan waktu untuk aktivitas kecil yang disukai, seperti olahraga ringan, mendengarkan musik, atau berjalan santai, dapat membantu menjaga suasana hati tetap stabil.
Merasa tidak langsung produktif setelah liburan adalah hal yang normal. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa kembali ke rutinitas kerja merupakan proses transisi psikologis, di mana tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali dengan tuntutan dan struktur pekerjaan [4]. Menerima fase transisi ini dapat membantu mengurangi tekanan emosional dan mencegah stres yang tidak perlu.
Pola makan yang lebih teratur dan cukup minum air membantu menjaga energi tetap stabil sepanjang hari. Tubuh yang terhidrasi dengan baik berperan penting dalam menjaga konsentrasi dan mengurangi rasa lelah berlebihan.
Kembali bekerja setelah liburan memang tidak selalu langsung terasa mudah. Ada kalanya tubuh masih terasa lelah, fokus belum sepenuhnya kembali, atau semangat kerja masih perlu dibangun lagi. Kondisi ini wajar terjadi. Memberi waktu untuk menyesuaikan ritme, memulai dari hal‑hal sederhana, dan tidak menuntut diri sendiri terlalu cepat justru dapat membantu membuat hari‑hari kerja terasa lebih ringan.
Di tengah rutinitas dan tanggung jawab yang terus berjalan, menjaga kondisi mental tetap menjadi hal penting. Dengan mengatur energi sehari‑hari dan lebih peka terhadap kebutuhan diri sendiri, masa transisi setelah liburan dapat dilalui dengan lebih tenang. Seiring waktu, ritme akan kembali terbentuk, dan pekerjaan pun dapat dijalani dengan rasa yang lebih nyaman dan seimbang.
Referensi:
[1] Vacation (after-) effects on employee health and well-being, and the role of vacation activities, experiences and sleep Vacation (after-) effects on employee health and well-being, and the role of vacation activities, experiences and sleep | Journal of Happiness Studies | Springer Nature Link
[2] Why Going Back to Work After the Holidays Feels So Hard Why Going Back to Work After the Holidays Feels So Hard | Psychology Today
[3] Back to Work, Running on Empty? How Recovery Needs and Perceived Organizational Support Shape Employees’ Vigor Upon Return to Work Back to Work, Running on Empty? How Recovery Needs and Perceived Organizational Support Shape Employees’ Vigor Upon Return to Work
[4] Vacation Time Recharges US Workers, but Positive Effects Vanish Within Days, New Survey Finds Vacation time recharges US workers, but positive effects vanish within days, new survey finds
Kumpulan artikel literasi asuransi yang membantu Anda memahami produk, manfaat, dan perlindungan finansial dengan lebih jelas.
Panduan kesehatan dan gaya hidup mulai dari pola makan, kesehatan mental, parenting, karier, hingga inspirasi yang membantu meningkatkan kualitas hidup.
Panduan mengelola keuangan dan investasi untuk menemani langkah Anda membangun masa depan.
Semua update tentang asuransi dan berita terbaru dari Prudential yang harus kamu ketahui
Penting bagi pengguna asuransi untuk mengetahui regulasi terbaru serta hak dan kewajiban pengguna.