Perbincangan tentang hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan kasus di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Kemenkes mencatat, sepanjang periode 2024-2026, terdapat 23 kasus hantavirus yang terkonfirmasi dan tersebar di sembilan provinsi dengan tiga di antaranya berujung pada kematian [1]. Meski jumlahnya tergolong terbatas, data ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan isu kesehatan yang sepenuhnya asing di Indonesia dan perlu dipahami secara lebih menyeluruh.
Hantavirus merupakan infeksi yang ditularkan dari tikus ke manusia, terutama melalui paparan urine, feses, atau debu yang terkontaminasi. Di Indonesia, jenis yang paling banyak ditemukan adalah Seoul virus, yang umumnya tidak menular antarmanusia dan berbeda dari varian yang sempat memicu perhatian global [2].
Karena gejalanya sering mirip flu atau demam biasa, infeksi hantavirus berpotensi luput dikenali di tahap awal. Inilah sebabnya pemahaman dasar soal cara penularan dan risiko hantavirus menjadi penting agar masyarakat bisa lebih waspada terhadap kesehatan tanpa perlu merasa panik berlebihan.
Apa Itu Hantavirus dan Mengapa Perlu Diketahui?
Hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menular ke manusia melalui paparan urin, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup secara tidak sengaja. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa infeksi ini umumnya berkaitan dengan kondisi lingkungan, bukan penularan antar manusia secara luas [3]. Meski kasusnya tergolong jarang, hantavirus tetap perlu dikenali karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang serius bila tidak ditangani dengan tepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, risiko paparan sering muncul tanpa disadari, misalnya saat membersihkan gudang, dapur, atau area tertutup yang jarang digunakan. Aktivitas tersebut dapat memicu partikel virus di udara, terutama jika area tersebut pernah dilewati atau dihuni tikus. Karena gejala awal hantavirus sering menyerupai flu ringan, banyak orang tidak langsung menyadari bahwa keluhan yang dialami memerlukan perhatian lebih lanjut.
Di Indonesia, hantavirus sebenarnya bukanlah virus baru. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa infeksi ini telah lama terdeteksi, namun kerap tidak teridentifikasi secara spesifik karena gejalanya yang umum dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kondisi permukiman, sanitasi, serta keberadaan tikus di sekitar tempat tinggal menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Cara Penularan Hantavirus dari Tikus ke Manusia
Penularan hantavirus umumnya terjadi akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi tikus, bukan melalui kontak antarindividu. Berikut beberapa cara penularan yang perlu diketahui [4]
Menghirup partikel virus di udara: Ini merupakan cara penularan yang paling sering terjadi. Virus dapat ikut terbawa debu dari urine, feses, atau air liur tikus yang mengering, terutama saat membersihkan gudang, loteng, atau ruangan yang jarang digunakan tanpa alat pelindung.
Gigitan tikus yang terinfeksi: Meski jarang terjadi, gigitan langsung dari tikus yang membawa virus tetap berpotensi menularkan hantavirus, terutama di lingkungan dengan populasi tikus yang tidak terkendali.
Kontak langsung dengan tikus atau benda terkontaminasi: Menyentuh tikus, permukaan, atau benda yang terkena cairan tubuh tikus, lalu tangan menyentuh mata, hidung, atau mulut dapat menjadi jalur masuk virus. Risiko juga dapat meningkat bila terdapat luka terbuka pada kulit.
Konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi: Makanan atau minuman yang tercemar kotoran tikus juga berisiko menularkan virus tertentu. Oleh karena itu, kebersihan penyimpanan makanan menjadi hal penting dalam pencegahan.
Baca Juga: 11 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus