Penyakit kritis merupakan kondisi medis yang jauh lebih kompleks dibandingkan penyakit pada umumnya. Jika penyakit biasa seperti flu atau demam cenderung bersifat sementara, penyakit kritis dapat mengancam nyawa, merusak sistem tubuh secara progresif, dan sering kali menimbulkan dampak permanen.
Berdasarkan data WHO yang dilansir dari Kontan (2025), penyakit kritis menjadi penyebab atas 41 juta kematian pada tahun 2023, angka yang mencakup 74% dari seluruh kematian di dunia. Yang perlu diwaspadai, lebih dari 17 juta penderita di antaranya meninggal di usia produktif (sebelum 70 tahun). Dari kasus tersebut,sekitar 80% diantaranya dipicu oleh penyakit kardiovaskular, kanker, gangguan pernapasan kronis, serta diabetes.
Jadi, apa yang dimaksud penyakit kritis? Simak selengkapnya dalam artikel ini!
Apa Itu Penyakit Kritis?
Penyakit kritis adalah kondisi kesehatan yang lebih kompleks dari kondisi kesehatan umum, sehingga membutuhkan penanganan medis lanjutan dan pengobatan jangka panjang. Dalam dunia medis, penyakit kritis (critical illness) diartikan sebagai penyakit yang berada di tingkatan tertinggi karena tingkat keparahan dan kompleksitasnya. Penyakit ini tidak hanya menyerang satu fungsi organ secara temporer, melainkan merusak sistem tubuh secara sistemik.
Penyakit yang satu ini tidak bisa disepelekan, karena umumnya ia bersifat progresif, membutuhkan intervensi medis tingkat tinggi seperti tindakan invasif (operasi besar), serta memerlukan terapi lanjutan dalam waktu yang lebih lama, seperti kemoterapi atau cuci darah.
Beberapa contoh penyakit kritis yang umum terjadi antara lain:
Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Kritis
Umumnya penyakit kritis tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi berbagai faktor risiko yang berkembang selama bertahun-tahun. Berikut beberapa penyebab dan faktor risiko penyakit kritis:
Gaya Hidup Tidak Sehat
Kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu penyebab terbesar munculnya penyakit kritis. Pola makandengan kandungantinggi gula, garam, dan lemak, kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, hingga kanker.
Selain itu, kurang tidur dan minim aktivitas fisik juga dapat memperburuk kondisi kesehatan tubuh seiring berjalannya waktu.
Faktor Usia dan Genetik
Risiko penyakit kritis cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, faktor keturunan juga memiliki pengaruh besar. Seseorang dengan riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung, diabetes, atau kanker biasanya memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Kondisi Lingkungan dan Stres
Paparan polusi udara, zat kimia berbahaya di tempat kerja, serta radikal bebas dapat merusak sel-sel tubuh dalam jangka panjang. Kondisi ini diperparah oleh stres kronis akibat tekanan hidup atau pekerjaan, yang memicu ketidakseimbangan hormon dan melemahkan sistem imun tubuh.
Jika tidak dikelola dengan baik, kombinasi faktor fisik dan mental tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kronis maupun kritis.
Trauma dan Kecelakaan
Dalam dunia medis, trauma berat ini dikategorikan sebagai pemicu penyakit kritis karena efek domino yang ditimbulkan. Misalnya, cedera kepala berat dapat menyebabkan stroke, hingga hilangnya fungsi kognitif.
Sementara itu, trauma fisik pada area dada atau perut dapat menyebabkan gagal jantung mendadak atau robeknya organ dalam yang berujung pada gagal fungsi organ multipel (multiple organ failure).
Kurangnya Deteksi Dini
Banyak penyakit kritis berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Kurangnya pemeriksaan kesehatan rutin membuat penyakit sering kali baru terdeteksi ketika tubuh sudah memasuki kondisi yang lebih serius.
Padahal, deteksi dini dapat membantu meningkatkan peluang pengobatan dan mencegah komplikasi yang lebih berat.
Baca juga: Cara Menurunkan Kolesterol Tinggi
Dampak Penyakit Kritis bagi Pasien dan Keluarga
Penyakit kritis tidak hanya memengaruhi kondisi kesehatan pasien, tetapi juga dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari dan kondisi keluarga secara keseluruhan. Berikut beberapa dampak penyakit kritis yang umum terjadi, antara lain:
Dampak kesehatan: Pasien penyakit kritis umumnya membutuhkan pengobatan dan pemantauan medis dalam waktu lama.
Perubahan kualitas hidup: Penyakit kritis dapat memengaruhi produktivitas seseorang. Aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan bisa menjadi lebih terbatas karena kondisi tubuh yang menurun.
Beban emosional dan psikologis: Selain beban fisik, pasien dan anggota keluarga juga sering mengalami stres, rasa khawatir, hingga kelelahan mental selama proses pengobatan dan perawatan berlangsung.
Dampak finansial yang tidak terduga: Biaya pengobatan penyakit kritis umumnya cukup besar, mulai dari rawat inap, tindakan medis yang kompleks, obat-obatan, hingga perawatan lanjutan. Kondisi ini dapat mengganggu stabilitas keuangan keluarga apabila tidak dipersiapkan dengan baik.
Hal ini juga tergambar dari pengalaman salah satu keluarga pasien yang menghadapi situasi darurat saat anggota keluarganya mengalami serangan jantung dan membutuhkan tindakan medis segera berupa pemasangan ring.
Sebagai nasabah Prudential sejak tahun 2005, Ibu Dona Susanti tidak menyangka bahwa perlindungan yang dimilikinya dapat membantu di saat paling kritis.
“Hampir sempat saya meminjam dana ke keluarga dan juga menjual aset yang ada di keluarga, ternyata begitu kita keluar dari rumah sakit alhamdulilah semua tercover.”
Kisah ini menunjukkan bagaimana perlindungan finansial dapat membantu meringankan beban biaya saat kondisi kesehatan tidak terduga terjadi.
Simak kisah lengkap Ibu Dona di bawah ini!
Biaya Pengobatan Penyakit Kritis yang Perlu Diantisipasi
Kompleksitas medis berbanding lurus dengan biaya yang dibutuhkan. Berikut adalah pos-pos biaya besar yang harus diantisipasi:
Jenis biaya |
Rincian |
Estimasi biaya |
Rawat inap dan ICU |
Kamar rawat inap (berdasarkan kelas rumah sakit) |
Rp100.000 – Rp3.000.000 per hari |
ICU/ICCU (tanpa alat tambahan) |
Rp1.050.000- Rp5.000.000 per hari |
Ventilator & alat bantu medis |
Biaya tambahan (tergantung kebutuhan pasien) |
Obat & tindakan medis |
Operasi besar (jantung, stroke, dll) |
Rp40.000.000-Rp450.000.000 |
|
Radioterapi |
Rp20.000.000-Rp50.000.00 |
Perawatan jangka panjang |
Fisioterapi pasca stroke |
Rp200.000-1.500.000 |
|
Cuci darah (hemodialisis) |
Rp800.000-5.000.000 |
Note: Estimasi biaya di atas merupakan kisaran biaya dari sejumlah rumah sakit di Indonesia dan dapat berubah sesuai kebijakan masing-masing fasilitas kesehatan.