Jakarta, 19 Mei 2026 – Industri asuransi kesehatan di Indonesia diproyeksikan terus bertumbuh seiring dengan tingkat inklusi yang masih relatif rendah. Meskipun demikian, industri asuransi juga dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, mulai dari kenaikan biaya medis (inflasi medis) yang mencapai hingga 19% di 2025, hingga keterlibatan berbagai pihak dalam ekosistem layanan kesehatan yang turut memicu peningkatan signifikan pada risiko fraud dalam klaim asuransi.
Merespons isu tersebut, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) mengambil langkah proaktif guna memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) serta melindungi kepentingan nasabah melalui penyelenggaraan program tahunan Risk Awareness Series 2026. Seminar edukatif yang mengusung tema “Health Fraud in Indonesia – Modus Operandi and Prevention” ini diselenggarakan secara luring di Prudential Tower, Jakarta, serta daring melalui Zoom, dan diikuti lebih dari 350 peserta, baik dari karyawan maupun tenaga pemasar. Menghadirkan pembicara dari lintas sektor yaitu Hery Subowo S.E., MPM., Ak., CIA., CFE (Chair of the Board of Directors ACFE Indonesia Chapter); Dr. Vetty Yulianty Permanasari, S.Si., M.P.H. (Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum BPJS Kesehatan); dan Dr. dr. Prasetyo Edi, Sp.BTKV, Subsp.VE(K) (Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia).
Vikash Sinha, Vice President Director Prudential Indonesia, dalam sambutannya menegaskan bahwa penanganan fraud bukan lagi sekadar pemenuhan kepatuhan, melainkan pilar utama keberlanjutan industri. “Fraud dalam asuransi kesehatan adalah isu yang tidak hanya dapat mengakibatkan kerugian finansial, namun juga berdampak langsung pada kepercayaan nasabah dan pada akhirnya melemahkan inklusi serta ketahanan keuangan masyarakat dalam jangka panjang. Wawasan yang dibagikan hari ini sangat penting untuk meningkatkan literasi anti-fraud kita, memperkuat budaya sadar risiko, serta menegaskan komitmen Prudential Indonesia untuk menjalankan bisnis dengan integritas dan tata kelola yang baik.”
Isu strategis mengenai ancaman nyata fraud ini kemudian dikupas dari berbagai sudut pandang oleh para pembicara, yang memperlihatkan bagaimana modus kecurangan di lapangan telah bermutasi. Hery Subowo S.E., MPM., Ak., CIA., CFE, Chair of the Board of Directors ACFE Indonesia Chapter membuka pemaparan dengan mengungkap Hasil Survei Fraud Indonesia 2025. Ia menyoroti tren pola fraud pada klaim kesehatan yang kian beragam contohnya seperti manipulasi diagnosis, pengajuan klaim yang berulang, hingga penyalahgunaan identitas peserta, ia sekaligus mendesak pelaku industri untuk segera mengadopsi langkah-langkah pencegahan yang tak lagi bisa ditunda. “Strategi pencegahan fraud dapat dilakukan melalui kombinasi penguatan proses manual seperti verifikasi, audit, dan validasi klaim secara menyeluruh serta pemanfaatan teknologi berbasis IT, termasuk analitik data, AI, dan pemantauan real-time, untuk mengidentifikasi pola tidak wajar sejak dini. Pendekatan ini memastikan setiap klaim diproses secara tepat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.” ungkapnya
Tantangan serupa juga dihadapi di sektor jaminan kesehatan publik. Dr. Vetty Yulianty Permanasari, S.Si., M.P.H., Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum BPJS Kesehatan, membagikan potret nyata tren fraud klaim di lingkungan BPJS Kesehatan seperti klaim atas pelayanan yang tidak diberikan, penggunaan obat-obatan dan/atau alat kesehatan yang berlebihan, hingga penjiplakan klaim, Dr. Vetty sekaligus menjelaskan strategi mitigasi komprehensif yang mereka jalankan demi mengamankan dana amanah program JKN. “Upaya pencegahan fraud dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan manajemen risiko, peningkatan kapasitas SDM, kepatuhan mitra, serta pemanfaatan data dan sistem deteksi untuk memastikan setiap potensi kecurangan dapat diidentifikasi dan ditangani sejak dini.” ujarnya.
Dr. dr. Prasetyo Edi, Sp.BTKV, Subsp.VE(K), Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, turut menyoroti dimensi etika profesi dalam praktik medis yang berkaitan dengan potensi fraud. Ia menekankan bahwa akar permasalahan sering kali tidak hanya berada pada sistem, tetapi juga pada integritas individu dan kepatuhan terhadap standar profesi. Dalam konteks ini, disiplin kedokteran dan etika medis menjadi garis pertahanan penting untuk memastikan bahwa setiap tindakan medis benar-benar didasarkan pada kebutuhan klinis pasien, bukan kepentingan lain.
Sebagai bentuk nyata dalam menghadapi dinamika risiko tersebut, Prudential Indonesia terus menegaskan komitmennya dalam menjaga integritas bisnis dan kepatuhan terhadap regulasi. Sejalan dengan ketentuan OJK, Prudential telah memperkuat deteksi fraud dengan mengintegrasikan AI, otomatisasi dan analitik data dalam proses pengelolaan klaim. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mempercepat proses penanganan klaim serta mengelola volume tinggi dengan tingkat akurasi yang lebih baik dan kapabilitas dalam mendeteksi pola tidak wajar. Selain itu, untuk meningkatkan pengalaman nasabah dan transparansi proses klaim, telah tersedia platform PRUServices yang dapat diakses oleh para nasabah kapanpun dan di manapun.
Maria Rosalinda, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko, Prudential Indonesia menegaskan “Melalui Risk Awareness Series 2026, kami berharap seluruh karyawan Prudential Indonesia memiliki pemahaman dan kewaspadaan yang selaras dalam mengenali serta memitigasi potensi fraud sejak dini. Sinergi ini menjadi fondasi penting untuk terus membangun ekosistem asuransi kesehatan yang bersih, berkelanjutan, dan tepercaya bagi masyarakat Indonesia—di setiap kehidupan, di masa depan.”
Sebagai informasi, Prudential Indonesia secara konsisten menjalankan edukasi literasi finansial dan asuransi ke berbagai komunitas mulai dari anak-anak sekolah dasar, perempuan, UMKM, hingga penyandang disabilitas, sampai pemanfaatan media sosial dan platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Pada tahun 2025, program literasi keuangan dan literasi asuransi Prudential Indonesia telah mencapai lebih dari 51 juta masyarakat di seluruh Indonesia.
Tentang Prudential Indonesia
PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) didirikan pada 1995 dan merupakan bagian dari Prudential plc, yang menyediakan asuransi jiwa dan kesehatan serta manajemen aset, dengan berfokus di Asia dan Afrika. Dengan menggabungkan pengalaman internasional Prudential di bidang asuransi jiwa dengan pengetahuan tata cara bisnis lokal, Prudential Indonesia memiliki komitmen untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.
Prudential Indonesia juga berkomitmen untuk menjadi mitra dan pelindung terpercaya bagi generasi saat ini dan generasi mendatang, dengan menyediakan solusi keuangan dan kesehatan yang sederhana dan mudah diakses.
Pada tahun 2024, Prudential Indonesia memiliki kantor pusat di Jakarta dengan 5 kantor pemasaran di Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, dan Medan, serta 309 Kantor Pemasaran Mandiri (KPM) di seluruh Indonesia, dan didukung oleh lebih dari 72.000 Agen/Mitra Bisnis Agency berlisensi.
Prudential Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:
Corporate Communications Prudential Indonesia
PT Prudential Life Assurance
Email: communications@prudential.co.id
Prudential Centre - Kota Kasablanka 17th Floor
Jl. Kasablanka, kav. 88, Jakarta Selatan 12870, Indonesia