Nenek dan cucu berolahraga

Ketahui Penyebab Tumor Otak, Gejala dan Penanganannya

Tumor otak dapat memengaruhi kualitas hidup manusia karena organ ini berperan sebagai pusat dari kendali seluruh anggota tubuh. Tumor otak merupakan penyakit langka, dilihat dari data penderitanya di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya mencapai 580 kasus sepanjang tahun 2013 sampai 2023 (laporan dari website Universitas Airlangga). Kendati merupakan penyakit langka, tumor otak dapat menimbulkan masalah yang serius dan mengancam jiwa penderitanya.

Selain tumor otak, ada juga penyakit kronis berupa diabetes tipe 2 yang perlu diwaspadai. Anda bisa membaca informasi lengkap tentang penyakit kronis dan diabetes keturunan di artikel ini Menurunkan Risiko Penyakit Kronis dan Mencegah Penyakit Keturunan Diabetes.

Apa itu Tumor Otak?

Tumor otak adalah pertumbuhan sel-sel secara abnormal di dalam otak. Anatomi otak terlihat kompleks dengan setiap bagiannya memiliki fungsi yang berbeda bertanggung jawab untuk setiap sistem saraf dalam tubuh. Tumor otak dapat berkembang pada bagian mana pun di otak atau tengkorak, mulai dari lapisan pelindung, bagian bawah otak (dasar tengkorak), batang otak, sinus dan rongga hidung, dan berbagai area lainnya. Ada lebih dari 120 jenis tumor yang berkembang di otak, tergantung dari asal jaringannya.

Tumor otak dapat bersifat ganas (kanker) atau jinak (non-kanker). Beberapa tumor tumbuh dengan cepat, sementara tumor lainnya tumbuh dengan lambat. Hanya sekitar sepertiga kasus dari tumor otak bersifat kanker. Terlepas dari tumor tersebut bersifat kanker atau tidak, tumor otak dapat memengaruhi fungsi otak dan kesehatan jika tumbuh cukup besar dan dapat menekan saraf, pembuluh darah, dan jaringan di sekitarnya.

Baca juga: Penyakit Autoimun: Penyebab, Gejala, dan Contoh Penyakitnya | Prudential Indonesia

Perbedaan Tumor Otak dan Kanker Otak

Tidak semua tumor otak bisa berkembang menjadi kanker. Namun, semua kasus kanker otak yang terjadi berkembang dari tumor otak. Tumor otak yang bersifat non-kanker disebut tumor otak jinak.

Tumor otak jinak biasanya tumbuh dengan lambat dan jarang menyebar. Meskipun bersifat jinak, tumor otak tetap berbahaya. Tumor otak jinak dapat merusak dan menekan bagian-bagian otak sehingga menyebabkan disfungsi yang parah. Contoh tumor otak jinak termasuk meningioma, vestibular schwannoma, dan pituitary adenoma.

Sedangkan kanker otak adalah tumor otak yang sudah bersifat ganas. Tumor otak jenis ini tumbuh dengan cepat dan menyerang struktur otak di sekitarnya. Kanker otak dapat mengancam nyawa karena tumornya menyerang struktur penting pada otak. Beberapa contoh tumor ganas termasuk olfactory neuroblastoma, chondrosarcoma, dan medulloblastoma.

Baca juga: Mengenali Gejala Penyakit Jantung dan Pencegahannya

Faktor Risiko Tumor Otak

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko tumor otak, yaitu:

1. Usia

Tumor otak dapat terjadi pada semua rentang usia, tetapi lebih sering dialami oleh orang dewasa dengan usia yang lebih tua. Beberapa jenis tumor otak memang lebih umum terjadi pada orang dewasa, namun hal ini bisa juga terjadi pada anak-anak.

2. Riwayat Keluarga

Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit tumor otak atau Sistem Saraf Pusat (SSP) meningkatkan risiko penyakit ini. Data dari Cancer Research UK menyatakan bahwa memiliki orang tua dengan riwayat tumor otak meningkatkan risiko terkena penyakit ini sebesar 70%.

Baca juga: Sesak Napas: Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya | Prudential Indonesia

3. Paparan Bahan Kimia Beracun

Orang yang terpapar jenis radiasi ionisasi yang kuat memiliki risiko lebih tinggi terkena tumor otak. Radiasi ionisasi cukup kuat untuk menyebabkan perubahan DNA dalam sel pada bagian tubuh. Perubahan DNA dapat menyebabkan tumor dan kanker. Contoh radiasi ionisasi termasuk paparan sinar matahari, gelombang mikro dari oven, unsur radioaktif dan paparan radiasi akibat bom atom. Sedangkan radiasi tingkat rendah dari benda-benda sehari-hari seperti ponsel dan gelombang radio tidak menyebabkan tumor otak.

4. Kondisi Medis Lainnya

Kondisi medis yang bersifat genetik juga menjadi faktor risiko tumor otak, meski hanya sebagian kecil. Beberapa kondisi turunan meningkatkan risiko tumor, termasuk:

  • Neurofibromatosis (penyakit genetik yang disebabkan oleh mutasi dalam gen yang meningkatkan risiko terjadinya pertumbuhan tumor).

  • penyakit Von Hippel-Lindau (kondisi turunan yang disebabkan oleh mutasi dalam satu gen tunggal yang disebut gen VHL).

  • Sindrom Li-Fraumeni (gangguan genetik turunan yang bersifat langka yang meningkatkan risiko peningkatan kanker).

  • Sindrom Lynch (sindrom kanker turunan dan terkait dengan kecenderungan genetik terhadap berbagai jenis kanker).

  • Sklerosis tuberosa (gangguan genetik akibat perubahan atau mutasi genetik sehingga menyebabkan kanker).

  • Sindrom Cowden (gangguan genetik langka yang bersifat turunan sehingga berisiko mengakibatkan pertumbuhan tumor).

 

Baca juga: Leukemia: Jenis dan Pencegahannya

Penyebab Tumor Otak

Lalu, apa yang menjadi penyebab tumor otak? Di bawah ini Anda bisa melihat penjelasannya.

1. Tumor Otak Primer

Tumor otak primer dimulai dengan pertumbuhan sel secara abnormal di dalam otak atau jaringan di sekitarnya, seperti meninges atau membran yang melindungi otak. Selain itu, tumor otak juga bisa terjadi pada saraf, kelenjar pituitari, dan kelenjar pineal.

Tumor otak terjadi ketika sel-sel pada otak mengalami perubahan dalam DNA. Perubahan ini menyebabkan sel-sel di otak tumbuh dengan cepat dan terus hidup, padahal sel-sel yang sehat seharusnya mati sebagai bagian dari siklus hidup alaminya. Hal ini membuat banyak sel ekstra pada otak sehingga membentuk pertumbuhan yang disebut tumor.

Belum jelas apa yang menyebabkan perubahan DNA yang mengakibatkan tumor otak. Untuk banyak orang dengan tumor otak, penyebabnya tidak pernah diketahui. Kadang-kadang, orang tua mewariskan perubahan DNA kepada anak-anaknya. Perubahan-perubahan ini dapat meningkatkan risiko tumor otak turunan, tetapi jarang terjadi.

Tumor otak primer biasanya terjadi pada anak-anak. Pada orang dewasa, tumor otak biasanya berupa kanker yang bermula dari bagian tubuh lain dan menyebar ke otak.

2. Tumor Otak Sekunder

Tumor otak sekunder terjadi karena kanker yang dimulai dari bagian tubuh lain kemudian menyebar ke otak. Kanker yang menyebar ke otak kemudian disebut kanker metastatik. Setiap jenis kanker dapat menyebar ke otak, tetapi jenis kanker yang umum termasuk kanker payudara, kanker usus, kanker ginjal, kanker paru-paru, dan melanoma. Penyebab pasti kanker tersebut menyebar ke otak sejatinya belum diketahui.

Tumor otak sekunder sering terjadi pada orang yang memiliki riwayat kanker, tetapi jarang menjadi tanda pertama dari kanker yang dimulai di bagian tubuh lainnya. Pada orang dewasa, tumor otak sekunder jauh lebih umum daripada tumor otak primer.

Baca juga: Apa itu Penyakit Alzheimer? Penyebab dan Gejalanya | Prudential Indonesia

Gejala Tumor Otak

Tumor otak bisa ditandai melalui gejala yang menyertainya. Ada dua kategori gejala tumor otak, yaitu gejala umum dan gejala khusus berdasarkan lokasinya.

Gejala Umum

Tanda dan gejala tumor otak secara umum mencakup:

  • Tekanan di kepala yang intens pada pagi hari.

  • Sakit kepala yang terjadi lebih sering dan terasa lebih parah, terkadang disebut migrain.

  • Mual atau muntah.

  • Masalah penglihatan, seperti penglihatan kabur, melihat ganda, atau kehilangan penglihatan di salah satu sisi.

  • Kehilangan sensasi atau gerakan di tangan atau kaki.

  • Sulit berdiri dengan seimbang.

  • Kesulitan dalam berbicara.

  • Sering merasa lelah.

  • Sering merasa bingung dalam beraktivitas sehari-hari.

  • Memiliki masalah ingatan.

  • Kesulitan mengikuti perintah sederhana.

  • Perubahan kepribadian atau perilaku.

  • Masalah pendengaran.

  • Pusing atau merasakan sensasi dunia berputar alias vertigo.

  • Merasa lapar dan mengalami peningkatan berat badan.

 

Gejala Berdasarkan Lokasi Tumor Otak

Selain gejala umum yang disebutkan di atas, ada juga gejala tumor otak berdasarkan lokasinya. Berikut adalah gejalanya:

  • Tumor di bagian depan otak: gejalanya mencakup masalah keseimbangan, kesulitan berjalan, sering lupa, dan kehilangan minat pada kegiatan sehari-hari.

  • Tumor di bagian tengah otak: gejalanya mencakup masalah yang berkaitan dengan pancaindra, contohnya masalah penglihatan dan masalah pendengaran.

  • Tumor di bagian belakang otak: gejalanya mencakup kehilangan penglihatan.

  • Tumor di bagian bawah otak: gejalanya mencakup masalah ingatan atau membuat seseorang merasakan sensasi rasa atau bau tersebut tidak menyenangkan atau tidak biasa.

 

Baca juga: Apa itu Kemoterapi? Fungsi, Efek dan Proses Pengobatannya | Prudential Indonesia

Penanganan Tumor Otak

Proses penanganan tumor otak, mulai dari diagnosis, pengobatan, hingga perawatan pasca pengobatan, ditangani oleh dokter ahli bedah saraf. Prosedur penanganan tumor otak terdiri dari:

Diagnosis Tumor Otak

Proses diagnosis dimulai dengan pemeriksaan fisik oleh ahli bedah saraf dengan menanyakan beberapa hal terkait gejala yang dirasakan, riwayat kesehatan pribadi maupun keluarga, dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan neurologis dengan memeriksa keseimbangan dan koordinasi tubuh, kondisi mental, dan tes penglihatan, pendengaran serta refleks. Perubahan pada tes neurologis dapat menunjukkan lokasi otak yang terkena tumor.

Jika ahli bedah saraf sudah mendeteksi adanya tumor otak, dilakukan pemeriksaan lanjutan. Mereka menggunakan beberapa tes untuk mendiagnosis tumor otak, termasuk: MRI atau CT-scan otak, biopsi, lumbal puncture, atau tes khusus seperti pemeriksaan darah dan cairan serebrospinal untuk zat yang dilepaskan oleh tumor otak.

Metode Pengobatan Tumor Otak

Langkah pengobatan tumor otak tidak dilakukan secara tunggal, tetapi terdiri dari beberapa kombinasi terapi tumor. Pilihan pengobatannya termasuk bedah otak untuk mengangkat tumor, terapi radiasi, radiosurgery, brachytherapy, kemoterapi, imunoterapi, atau terapi bertarget untuk menargetkan elemen tertentu dalam sel kanker.

Perawatan Pascaoperasi

Setelah dilakukan pengobatan, pasien harus menjalani perawatan setelah operasi untuk memperoleh kembali fungsi di bagian otak yang sebelumnya terkena tumor, seperti bergerak, berbicara, melihat, dan berpikir. Berdasarkan kebutuhan spesifiknya, perawatan pascaoperasi ini mencakup:

  • Terapi fisik untuk melatih keterampilan motorik atau kekuatan otot yang tidak berfungsi.

  • Terapi okupasional untuk membantu pasien kembali ke aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja.

  • Terapi wicara untuk melatih berbicara.

  • Les privat bagi anak usia sekolah supaya mereka bisa mengatasi perubahan dalam ingatan dan berpikir.

 

Baca juga: Apa itu Penyakit TBC? Gejala, Penyebab dan Cara Mencegahnya | Prudential Indonesia 

Pencegahan Tumor Otak

Untuk mencegah tumor otak, lakukanlah beberapa langkah di bawah ini:

1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Penerapan gaya hidup sehat termasuk mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, dan menjaga berat badan agar tetap ideal. Hindari konsumsi alkohol secara berlebihan dan juga merokok.

Baca juga: Menerapkan Pola Hidup Sehat saat Puasa: Tips Kesehatan dan Nutrisi yang Tepat

2. Menghindari Paparan Radiasi dan Bahan Kimia Beracun

Paparan radiasi ionisasi dapat meningkatkan risiko tumor otak. Selain itu, hindari paparan jangka panjang terhadap bahan kimia beracun, seperti pestisida dan zat kimia industri, yang dapat meningkatkan risiko kanker otak.

3. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala

Lakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan tumor otak atau faktor risiko lainnya. Pemeriksaan rutin dapat mendeteksi masalah kesehatan lebih awal, termasuk potensi tanda-tanda awal tumor otak. Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter secara berkala untuk pemantauan kesehatan yang baik.

Baca juga: Apa itu Parkinson? Penyebab, Gejala, Faktor dan Pencegahannya | Prudential Indonesia

Kesimpulan

Tumor otak adalah kondisi serius karena menyerang otak yang mana merupakan sistem saraf pusat dalam tubuh manusia. Faktor risiko tumor otak mencakup usia, riwayat keluarga dengan tumor otak, dan paparan radiasi serta bahan kimia berbahaya.

Pentingnya mengenali gejala tumor otak tidak boleh diabaikan, seperti sakit kepala, masalah penglihatan, dan perubahan perilaku. Penanganan tumor otak mencakup terapi radiasi, kemoterapi, dan terapi bertarget. Selain itu, rehabilitasi setelah pengobatan juga menjadi fokus, dengan terapi fisik, terapi okupasional, dan terapi wicara menjadi langkah kunci dalam membantu pasien memulihkan fungsi yang hilang akibat tumor otak.

Perlindungan terhadap penyakit kritis seperti tumor otak juga perlu diperlengkapi dengan memiliki proteksi finansial berupa Asuransi Kesehatan dari Prudential. Dengan Asuransi Kesehatan Prudential, nasabah tidak hanya mendapatkan perlindungan finansial terhadap risiko kesehatan, tetapi juga ketenangan pikiran untuk fokus pada pengobatan dan pemulihan. Hubungi kami untuk mendapatkan informasi lengkapnya!