Jenis Pemeriksaan dalam Medical Check Up untuk Kerja
Secara umum, paket tes kesehatan kerja yang disediakan oleh fasilitas medis rekanan perusahaan meliputi beberapa tahap standar berikut:
Pemeriksaan Fisik Dasar: Pengukuran tinggi/berat badan (BMI), tekanan darah, denyut nadi, tes visus mata, serta buta warna.
Pemeriksaan Laboratorium:
Tes Darah: Mengecek kadar hemoglobin, leukosit, gula darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal.
Tes Urine: Mendeteksi gangguan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih, serta skrining zat narkotika (napza).
Pemeriksaan Radiologi: Foto Rontgen dada (chest X-ray) untuk memeriksa kondisi paru-paru dan jantung.
Pemeriksaan Tambahan (Sesuai Kebutuhan Industri): Elektrokardiogram (EKG) untuk fungsi jantung, spirometri untuk kapasitas paru-paru, atau audiometri untuk pendengaran.
Persiapan Sebelum Medical Check Up Kerja
Agar proses pemeriksaan berjalan lancar dan dapat memberikan data klinis yang akurat, calon karyawan umumnya akan dianjurkan untuk melakukan beberapa persiapan, di antaranya:
Puasa
Sebelum menjalani medical check-up, peserta diminta berpuasa selama 8–12 jam hingga pengambilan sampel darah. Melansir situs RS Kemenkes Surabaya, instruksi ini bertujuan mencapai keadaan basal, yaitu fase ketika metabolisme tubuh berada dalam tingkat paling stabil.
Istirahat yang Cukup
Sebelum melakukan pemeriksaan, pastikan Anda tidur yang cukup selama 7–8 jam pada malam harinya. Kondisi tubuh yang kurang tidur dapat memengaruhi tekanan darah, konsentrasi hormon, serta denyut jantung yang pada akhirnya dapat hasil pemeriksaan menjadi kurang akurat.
Bawa Dokumen dan Catatan Medis
Persiapkan dokumen identitas, surat rujukan, serta riwayat medis atau daftar obat yang sedang dikonsumsi. Kelengkapan catatan medis ini sangat penting untuk membantu dokter memahami kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh dan memberikan evaluasi hasil yang lebih presisi.
Hindari Aktivitas Fisik Berat
Hindari melakukan olahraga berat atau aktivitas fisik yang menguras tenaga setidaknya 24 jam sebelum pemeriksaan. Latihan fisik yang intens dapat meningkatkan kadar enzim otot dan urea dalam darah, sehingga berpotensi mengganggu keakuratan hasil laboratorium.
Apakah Hasil MCU Memengaruhi Penerimaan Kerja?
Di beberapa perusahaan, hasil MCU menjadi salah satu penentu utama dalam proses rekrutmen. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kondisi medis yang dapat memengaruhi performa kerja, berisiko membahayakan keselamatan diri dan orang lain, atau tidak memenuhi standar fisik untuk kualifikasi posisi tersebut, hal ini dapat memengaruhi keputusan akhir perusahaan dalam meloloskan calon karyawan.
Apa yang Harus Dihindari Sebelum MCU Kerja?
Beberapa kebiasaan dalam kurun waktu 24–48 jam sebelum jadwal tes dapat memengaruhi hasil parameter laboratorium menjadi tidak akurat (false positive/negative). Berikut beberapa hal yang perlu dihindari, antara lain:
Mengonsumsi Alkohol dan Kafein: Alkohol dan kafein dapat mendistorsi hasil tes fungsi hati (SGOT/SGPT) serta meningkatkan tekanan darah secara mendadak.
Begadang: Kebiasaan kurang tidur dapat menurunkan sistem imun sementara, dan memicu peningkatan gula darah saat puasa.
Olahraga Terlalu Berat: Latihan fisik intensif sebelum tes dapat memicu lonjakan kadar enzim otot (creatine kinase) dan protein dalam urine.
Obat-obatan Tanpa Resep: Tunda penggunaan suplemen dan obat bebas, terutama yang mengandung pseudoefedrin, untuk memastikan keakuratan hasil tes NAPZA.
Di beberapa perusahaan, medical check up jadi salah satu rangkaian dari proses rekrutmen karyawan, hingga agenda rutin tahunan. Supaya semua tahapan MCU kerja dapat berjalan lancar, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan dan hal-hal yang harus dihindari guna memastikan validitas hasil tes MCU.
Selain melakukan tindakan preventif dengan medical check up, lengkapi perlindungan diri Anda dengan asuransi kesehatan PRUSehat dari Prudential Indonesia. Dapatkan perlindungan yang #BeneranPas untuk fasilitas rawat inap dan rawat jalan sesuai kebutuhan Anda. Untuk tahu selengkapnya, cek di bawah ini!
Sumber: